Mengatur Tidur dan Aktivitas Cara Rasulullah

Madupahit.com – Mengatur Tidur dan Aktivitas Cara Rasullullah (Ibnu Qayyim al-Jauziyah) –  Bag.2

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Al-Barra bin Azib bahwa Rasulullah bersabda:

“Kalau engkau menuju pembaringan, hendaknya engkau berwudhu seperti wudhu hendak shalat, kemudian berbaringlah ke sebelah kanan, lalu ucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku berserah diri kepada–Mu, mengarahkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu; karena rasa sugesti dan takut kepada-Mu: tidak ada tempat berlindung dan tempat mencari keselamatan melainkan kepada-Mu jua. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan, Nabi yang Engkau utus.” Jadikanlah semua doa itu sebagai akhir dari ucapanmu. Kalau di malam itu engkau meninggal dunia, engkau meninggal di atas fitrah.”

Dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Aisyah diriwayatkan bahwa Rasulullah seusai melaksanakan shalat (sunnah) Fajar, beliau berbaring dengan miring ke sebelah kanan.”

Ada pendapat bahwa hikmah dari berbaring ke sebelah kanan adalah bahwa agar orang tidak terlalu nyenyak tidurnya. Karena jantung seseorang itu agak miring ke sebelah kiri. Kalau seseorang tidur miring ke sebelah kanan, otomatis jantung akan mencari-cari posisinya yang seharusnya di sebelah kiri. Kondisi itu tentu saja menyebabkan seseorang tidak bisa terlalu nyenyak dalam tidurnya. Lain halnya bila seseorang berbaring dengan miring ke sebelah kiri. Itulah posisi jantung yang paling nyaman sehingga menyebabkan tubuh merasa nyaman sekali, namun akibatnya seseorang akan nyenyak sekali dalam tidurnya, merasa berat untuk bangun sehingga akan kehilangan banyak kepentingan dunianya dan akhiratnya.

Karena orang yang tidur tidak ubahnya seperti orang yang meninggal dunia, sebab tidur adalah saudara kembar kematian, maka mustahil bagi Allah untuk tidur. Dan oleh karena itu pula para penghuni Jannah juga tidak tidur di dalam Surga. Karena orang yang tidur membutuhkan orang yang menjaga dan memelihara dirinya dari segala bencana yang bisa menimpanya. Menjaga badannya dari segala keburukan yang mungkin mengenainya. Allah sebagai Rabb dan Penciptanya, tentu akan selalu mengurus kebutuhannya. Oleh sebab itu Rasulullah mengajarkan orang yang hendak tidur untuk mengucapkan beberapa kalimat yang menunjukkan penyerahan diri, permintaan perlindungan diri, rasa sugesti dan takut kepada Allah, yakni demi mendapatkan penjagaan optimal dari Allah dan pemeliharaan terhadap jiwa dan raganya, lalu selain itu Rasulullah juga membimbing agar seseorang mengingat imannya dan tidur dengan imannya tersebut serta menjadikan ungkapan keimanan sebagai akhir ucapannya sebelum tidur. Karena bisa jadi Allah mewafatkan dirinya dalam tidurnya. Kalau akhir ucapannya adalah ungkapan keimanan, ia akan masuk Surga.

Cara tidur seperti itu mengandung kemaslahatan hati, tubuh dan jiwa, baik pada saat tidur, saat terjaga, di dunia maupun di akhirat. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada umat Nabi yang selalu mencari kebajikan.

Arti ucapan, “Aku berserah diri kepada-Mu,” yakni menjadikan dirimu Muslim yang berserah diri seperti layaknya seorang hamba sahaya yang menyerahkan dirinya kepada tuan dan pemiliknya.

Penyerahan diri kepada Allah meliputi penyerahan diri secara totalitas kepada Allah, mengikhlaskan niat dan tujuan ibadah hanya kepada-Nya, serta memberi pengakuan dengan tunduk, pasrah, dan menyerah kepada-Nya.

Allah berfirman:

Al-Imran-20

 “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah:”Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” (Ali Imran: 20)

Dalam ayat itu disebutkan kata ‘wajhi’ (diriku), yang asalnya berarti wajahku. Wajah merupakan bagian paling mulia pada diri manusia, pusat dari panca indera. Selain itu, wajah juga mengandung makna ‘menghadap’ dan mengarahkan tujuan, seperti dalam sebuah syair:

“Rabb dari seluruh hamba, kepada-Nya setiap ‘wajah’ dan perbuatan ditujukan.”

Menyerahkan urusan kepada-Nya, artinya mengembalikan segala urusan kepada-Nya. Konsekuensinya adalah bahwa hati menjadi nyaman dan tentram, penuh dengan keridhaan terhadap apa yang dipilih dan ditakdirkan oleh Allah, terhadap apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Penyerahan segala urusan kepada Allah termasuk maqam (tingkatan ibadah) paling mulia. Namun tidak ada alasan rasional berkaitan dengan tingkatan ibadah ini, karena ia merupakan tingkatan khusus, tidak sebagaimana pendapat mereka yang menganggap itu adalah masalah khilafiyah.

Penyandaran diri kepada Allah mengandung kekuatan tawakal kepada Allah, merasa tentram menuju kepada-Nya, selalu bertawakal kepada-Nya. Seperti layaknya orang yang menyandarkan punggungnya kepada sebuah pilar yang kokoh, tidak akan khawatir kalau tiang itu roboh.

Saat hati memiliki dua kekuatan, kekuatan permohonan yang berisi harapan atau sugesti, serta kekuatan menghindari sesuatu yang berisi rasa takut kepada Allah sehingga si hamba selalu mengejar hal yang bermanfaat dan menghindari bahaya, maka berarti ia telah mengumpulkan dua perkara: penyerahan diri dan menghadapkan diri kepada Allah, lalu ia berkata,”….karena sugesti dan rasa takut kepada-Mu…”.

Kemudian dalam doa itu seorang Muslim memuji Rabb-Nya bahwa tidak ada tempat berlindung baginya selain kepada Allah, dan tidak ada tempat mencari keselamatan kecuali kepada-Nya jua. Karena Allah adalah tempat berlindung bagi seorang hamba dan tempatnya mencari keselamatan seperti disebutkan dalam hadits lain, “Aku berlindung kepada keridhaan-Mu terhadap kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu terhadap siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.” Allah yang memberi perlindungan kepada hamba-Nya, menyelamatkannya dari siksa-Nya yang juga datang dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Semua bala bencana berasal dari Allah, dan segala pertolongan juga berasal dari-Nya. Kepada-Nya dimohon segala keselamatan dan hanya kepada-Nya juga tempat berlindung. Hanya kepada-Nya tempat berlindung dari segala bahaya yang juga berasal dari-Nya. Hanya kepada-Nya bisa mencari keselamatan dari musibah yang juga berasal dari-Nya. Allah adalah Rabb dari segala sesuatu, tidak ada sesuatu yang terjadi melainkan dengan kehendak-Nya.

Allah berfirman:

Al An'am - 17

 “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri….” (Al-An’am: 17)

Allah berfirman:

Al-Ahzab - 17

 “Katakanlah:’Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu.” (Al-Ahzab: 17)

 

Lalu doa di atas ditutup dengan keimanan terhadap kitab-Nya dan Rasul-Nya yang merupakan kunci keselamatan dan kemenangan di dunia dan di akhirat. Itulah petunjuk Nabi dalam tidur, “Kalaupun beliau tidak berkata: Aku adalah Rasulullah, petunjuk hidupnya sudah cukup berbicara….”

 

 

Share Our Posts

Share this post through social bookmarks.

  • Delicious
  • Digg
  • Newsvine
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati

Comments

Tell us what do you think.

There are no comments on this entry.

Trackbacks

Websites mentioned my entry.

There are no trackbacks on this entry

Add a Comment

Fill in the form and submit.