Mengatur Tidur dan Aktivitas Cara Rasulullah

Madupahit.com – Mengatur Tidur dan Aktivitas Cara Rasullullah (Ibnu Qayyim al-Jauziyah) –  Bag.1

Cara Tidur dan Aktivitas RosulSiapa saja yang memperhatikan dan melakukan cara tidur dan aktivitasRosullullah, pasti akan mendapatkannya sebagai cara tidur terbaik dan paling bermanfaat untuk tubuh, untuk seluruh organ badan dan stamina. Beliau tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Beliau bangun dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai batas waktu yang diizinkan oleh Allah. Tubuh berikut organ-organnya dan energi tubuh mendapatkan hak yang pantas untuk tidur dan beristirahat, namun juga cukup berolahraga, di samping mendapat pahala. Itu adalah cara paling maslahat bagi hati dan tubuh manusia di dunia dan di akhirat.

Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun juga tidak menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Beliau melakukannya dengan cara terbaik: tidur pada saat diperlukan dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berdzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat, tidak dalam keadaan kekenyangan karena makan dan minum, dan tidak langsung bersentuhan dengan tanah dan tidak berbaring di atas kasur yang terlalu tebal. Beliau memiliki kasur kulit berisi sabut. Beliau juga membaringkan kepalanya di atas bantal. Terkadang beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya.

Di sini kami akan membahas sub pembahasan tentang tidur yang bermanfaat dan yang berbahaya. Kami tegaskan : Tidur artinya adalah suatu kondisi dimana badan terselimuti oleh panas alami dan energi ke bagian dalam tubuh untuk beristirahat.

Tidur ada dua macam yaitu :

1.      Tidur yang alami

Tidur yang alami adalah saat energi jiwa mencegah segala bentuk aktivitas tubuh, yakni energi indra dan gerakan hati. Kalau energi tersebut sudah menahan gerakan tubuh, saat itulah tubuh ibarat diulur. Segala bentuk kelembaban dan uap tubuh yang pada saat tubuh sedang beraktivitas seluruhnya bercerai-berai mengikuti aktivitas, namun saat tidur seluruhnya berkumpul di otak yang merupakan sumber energi, lalu bersembunyi dalam otak dan terulur. Itulah tidur yang alami.

2.      Tidur yang tidak alami.

Adapun tidur yang tidak alami adalah yang dialami seseorang karena sakit atau karena suatu kondisi tertentu. Yakni saat kelembaban menguasai otak sedemikian rupa sehingga tidak mampu terjaga atau sadar. Atau karena unsur kelembaban dan uap memuncak-seperti saat kekenyangan atau kembung karena banyak minum-sehingga otak menjadi lembah dan berhenti beraktivitas. Saat itu energi menjadi tersembunyi dan energi jiwa juga berhenti beraktivitas. Terjadilah tidur.

Tidur memiliki dua faidah besar yaitu :

1.     Istirahatnya seluruh anggota tubuh sehingga terbebas dari rasa lelah, panca indera juga menjadi nyaman, terlepas dari kerja berat saat terjaga, segala kepenatan juga lenyap.

2.   Sempurnanya metabolisme makanan dan proses pembakaran. Karena panas alami tubuh pada saat tidur menggelegak ke seluruh tubuh sehingga membantu proses tersebut. oleh sebab itu tubuh secara lahir menjadi dingin, dan orang yang tidur cenderung membutuhkan selimut.

Tidur yang paling efisienadalah berbaring ke sebelah kananagar makanan bisa berada pada posisi yang pas dalam lambung, mengendap secara proporsional. Karena lambung cenderung miring ke sebelah kiri sedikit. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke lever, baru kemudian dilanjutkan dengan berbaring ke sebelah kanan saja agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung. Jadi berbaring ke sebelah kanan dilakukan di awal tidur dan akhir tidur. Terlalu banyak berbaring ke sebelah kiri membahayakan jantung dan menyebabkan seluruh organ mengarah ke jantung, bahkan banyak unsur tubuh yang menyerang jantung.

Tidur yang terburukadalah Tertelentang. Tiduran terlentang tidak menjadi masalah sekadar untuk beristirahat sejenak, bukan untuk tidur. Lebih buruk lagi tidur bertelungkup. Dalam Musnad  dan Sunan Ibnu Majah diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa ia menceritakan: Nabi pernah lewat di hadapan seorang lelaki yang sedang tidur menelungkup, maka beliau menyepaknya dengan kaki beliau sambil bersabda, “Bangun!-duduk-itu adalah cara tidur para penghuni Jahannam.”

Hippocrates menyebutkan dalam buku At-Taqdimah, “Kalau seorang yang sakit, tidur menelungkup, padahal pada waktu sehat ia tidak terbiasa tidur demikian, itu menunjukkan otaknya tidak beres, atau memang ada penyakit di seputar perutnya.”Mereka menjelaskan bukunya menegaskan, “Karena itu bertentangan dengan kebiasaan baik, justru mencoba-coba kebiasaan buruk tanpa ada sebab yang secara lahir maupun batin.”

Tidur yang standar memberi kesempatan kepada energi alami melakukan aktivitasnya, menentramkan jiwa, memperbanyak sel-sel tubuh, hingga bisa jadi seseorang tertidur demikian nyenyaknya sehingga tidak memberi kesempatan ruh jahat untuk memasukinya.

Tidur siang itu tidak baik, karena bisa menimbulkan berbagai penyakit akibat kelembaban tubuh, menimbulkan banyak wabah, merusak pigmen tubuh, menimbulkan banyak wabah, merusak pigmen tubuh, menyebabkan penyakit empedu, melemaskan syaraf, menimbulkan kemalasan, melelahkan syahwat, kecuali di musim panas pada tengah hari. Yang terburuk adalah tidur di awal siang. Namun yang lebih buruk lagi adalah tidur di akhir waktu Ashar.

Saat Ibnu Abbas melihat salah seorang anaknya tidur di pagi hari, beliau berkata, “Bangun ! Apakah kamu tidur saat dibagi-bagikannya rizki?

Ada yang berpendapat bahwa tidur siang itu ada tiga macam:

1.      Khuluq

Khuluq adalah tidur di tengah hari. Disebut khuluq (akhlak), karena itu adalah kebiasaan Rasulullah

2.      Khuruq

Khuruq (perusak) adalah tidur di waktu Dhuha, sehingga mengganggu aktivitas dunia dan akhirat. Tidur pagi dapat menolak rizki. Karena itu adalah waktu mencari rizki, waktu dibagi-bagikannya rizki. Maka tidur pada saat itu dapat menolak rizki, kecuali karena suatu alasan atau karena kebutuhan mendesak. Selain itu tidur di pagi hari amat berbahaya bagi kesehatan, karena badan dimanjakan dan otot-otot menjadi rusak sehingga harus diperbaiki melalui olahraga. Tidur semacam itu tentu saja menyebabkan pegal linu, kelelahan dan kelemahan, dan kalau itu dilakukan sebelum buang air, beraktivitas dan olahraga, lambung disibukkan mengolah makanan. Tentu saja itu dapat menimbulkan penyakit kronis yang bisa melahirkan berbagai penyakit lainnya. Seorang ahli syair menyatakan:

“Sesungguhnya tidur di waktu dhuha dapat menyebabkan kemalasan bagi para pemuda, tidur  Ashar dapat menimbulkan penyakit gila.”

3.      Humuq

Sementara humuq (kebodohan) adalah tidur di waktu Ashar. Ada ulama As-Salaf yang menegaskan, “Siapa saja yang tidur sesudah Ashar, lalu akalnya dicabut, hendaknya  ia hanya mencaci dirinya sendiri.”

Tidur di bawah sengatan matahari juga dapat memancing penyakit terpendam. Tidur antara sinar matahari dan tempat teduh juga tidak baik. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya dari hadits Abu Hurairah, ia menceritakan Rasulullah bersabda:

“Kalau salah seorang di antara kalian berada di bawah sinar matahari, tiba-tiba terkena teduh sehingga sebagian tubuhnya di bawah sinar matahari dan sebagian lain di tempat teduh, maka hendaknya ia bangkit.”

Dalam Sunan Ibnu Majah dan yang lainnya disebutkan dari hadits Buraidah bin Al-Husaib bahwa Rasulullah melarang seseorang duduk di antara sinar matahari dan tempat teduh. Ini merupakan peringatan terhadap larangan tidur antara kedua waktu itu.

 

Sumber: Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim. 2004. Metode Pengobatan Nabi. Jakarta: Griya Ilmu.

                 Endio.wordpress

Share Our Posts

Share this post through social bookmarks.

  • Delicious
  • Digg
  • Newsvine
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Technorati

Comments

Tell us what do you think.

There are no comments on this entry.

Trackbacks

Websites mentioned my entry.

There are no trackbacks on this entry

Add a Comment

Fill in the form and submit.